Rabu, 14 Oktober 2015
Wayang Kampung Sebelah
Wayang Kampung Sebelah
“Mawas Diri Menakar Berani”
Dalang : Ki Jlitheng Suparman
Selasa, 20 Oktober 2015 di Balairung Universitas PGRI Semarang mengadakan pertunjukan Wayang Kampung Sebelah dengan Lakon “Mawas Diri Menakar Berani” didalangi oleh Dalang Jlitheng Suparman. Pementasan wayang tersebut Dalang Jlitheng mengangkat sebuah realita kehidupan dalam masyarakat; korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kemiskinan pun diperlihatkan dalam pementasab WKSyang melanda bumi pertiwi. Wayang Kampung Sebelah ini menarik untuk disaksikan karena berbeda dengan pertunjukan wayang pada umumnya semisal wayang golek atau wayang kulit. Dan yang menarik dari pertunjukan wayang kampung sebelah adalah Dhalang Ki Jliteng Suparman yang lihai memainkan wayang dengan membawakan berbagai karakter dari tokoh-tokoh dalam pewayangan kampung sebelah. Selain itu Ki Dalang mampu mengolah kata-kata, suara, dan gerak dalam tiap lakon. Selain dalang ada juga yang membantu dalam pementasan tersebut. Sinden yang cantik dengan suara yang merdu menjadi fokus mahasiswa UPGRIS yang menonton wayang tadi pagi. Lagu-lagu yang dibawakan pun relevan dan menghibur para penonton. Pemain perkusi bekerja keras memainkan alat musik yang dipegang masing-masing sehingga selaras dengan lagu dan konteks cerita dalam wayang. Pementasan semakin enak dilihat karena kekompakan dalang, sinden, dan pemain band.
Tema yang dibidik dalam pementasan wayang kampung sebelah ini adalah perebutan kekuasaan untuk menjadi Lurah desa Bangunjiwa. Diceritakan tokoh Plungsur dan Somad yang menginginkan dan saling bersaing untuk menjadi Lurah di Bangunjiwa. Tetapi sayang kedua calon lurah itu menggunakan cara-cara yang tidak baik dalam pemilu di desanya. Baik Somad maupun Plungsur memakai rayuan gombal dan many politik yaitu dengan menyogok penduduk desa dengan uang agar memilih kedua calon lurah itu. Uang tersebut mereka bagikan dengan cara dari pintu ke pintu. Uang pecahan Rp. 50.000,00 dan Rp. 25.000,00 Somad bagikan dengan harapan mereka yang dikasih uang memilih Somad menjadi Lurah Bangunjiwa. Tidak kalah dengan Somad, Plungsur pun memberikan uang dengan nominal yang lebih besar yaitu sebesar Rp. 100.000,00 sampai Rp. 200.000,00. Jelas dengan perbedaan jumlah uang secara tidak langsung kemungkinan besar Plungsur dapat memenangkan pemilihan lurah di desa Bangunjiwa. Namun pertandingan belum selesai mereka berdua masih berjuang mendapatkan jabatan. Selain many politik kedua calon itu membuat janji-janji politik kepada warga desa Bangunjiwa. Somad berjanji menuntaskan kemiskinan di desa Bangunjiwa dengan program CU pinjaman lunak tanpa bunga. Dengan harapan warga dapat mengembangkan uang itu untuk modal usaha kecil rumah tangga. Tidak kalah dengan Si Somad Plungsur menawarkan janji untuk mencerdaskan SDM warga desa Bangunjiwa dengan sekolah gratis serta berjanji membangun sarana persekolahan yang mendukung proses belajar mengajar siswa serta guru. Persaingan untuk menjadi lurah ini akan semakin menarik karena dibumbui oleh tokoh tokoh yang lain seperti; Kampret, Eyang Sidik, Raja Dangdut Koma Ramarimari, Minul Darahtinggi, Syah Marni, dan Bob Marno.
Kampret adalah tokoh protagonis, ia menjadi tokoh sentral dalam lakon “Mawas Diri Menakar Berani” diceritakan Kampret seorang yang bijaksana dan berbudi luhur. Kampret sendiri mempunyai pengalaman rohani yang kuat dimana ia menjalankan perintah agamanya dengan taat dan tekun. Pengalaman rohani ini yang membentuk kepribadian Kampret yang baik. Nilai-nilai keutamaan hidup menjadi pedoman dalam bertutur dan bersikap setiap hari Si Kampret. Warga desa Bangunjiwa semuanya menghormati Kampret. Pada saat Kampret berjalan orang-orang menundukan kepala hormat pada dia. Saat Kampret bercerita atau pun berkata-kata warga desa Bangunjiwa mau menyimak sampai tuntas. Mendengar itu terkadang membosankan tetapi ketika Kampret berorasi mampu mengobarkan semangat desa bangunjiwa. Kemampuan Kampret bukan hanya itu saja dia menjadi mediator dalam perselisihan Somad dengan Plungsur dalam perebutan pemilihan Lurah yang diwarnai dengan kecurangan-kecurangan.
1. Wayang Kampung Sebelah dengan lakon “ Mawas Diri Menakar Berani”
WKS ( Wayang Kampung Sebelah) yang saya tonton hari Selasa kemarin sangat menarik karena temanya yaitu mengenai perseteruan dua bakal calon Lurah Bangunjiwa. Tema ini menarik karena mengangkat realita kehidupan berpolitik di negeri ini yang penuh dengan intrik-intrik kejahatan.
2. Alur
Alur atau jalan cerita yang ditampilkan dalam WKS adalah alur maju yang menarik dan tersusun rapih, peristiwa-peristiwa disusun secara kronologis berdasarkan waktu kejadiannya. Fakta-fakta dan peristiwa nyata dalam kehidupan bermasyarakat ditampilkan secara kongkrit.
3. Latar
• Latar Tempat, latar tempat yang digunakan dalam WKS adalah di sebuah panggung wayang dengan konsep sebuah desa yang bernama Desa Bangunjiwa. TPU (Tempat Pemilihan Umum)..
• Latar Waktu WKS adalah tahun 2013, bertepatan dengan pembuatan scenario oleh Ki Jliteng Suparman.
• Latar Suasana, latar suasana yang ada dalam WKS ini beragam. Somad dengan Plungsur yang berseteru membuat tegang suasana namun menjadi cair ketika ada Eyang Sidik Wacono yang menjadi penengah. Suasana menjadi heboh karena peran Minul Darahtinggi yang menggoyang panggung. Suasa romantic pada saat Syah Marni melantunkan lagu cinta.
4. Tokoh/penokohan
Para tokoh yang berperan dalam Wayang Kampung Sebelah:
• Eyang Sidik Wacono yang mempunyai peran yang vital dalam pemilu di desa Bangunjiwa.
• Sodrun Suto Coro sebagai kepala rumah tangga kelurahan yang setia menjalankan tugasnya.
• Mbah Sidik adalah tokoh yang tidak netral dalam pemilihat lurah, ia meminta bonus kepada Somad.
• Somad calon lurah yang menjadi kurban dari many politik.
• Karyo calon lurah yang bersaing dengan Somad.
• Kampret tokoh yang lucu sebagai penghibur.
• Tokoh-tokoh penghibur dalam WKSRaja Dangdut Koma Ramarimari, Minul Darahtinggi, Syah Marni, dan Bob Marno.
5. Dalang WKS Ki Jliteng Suparman sebagai sutradara sekaligus pemain yang menjelma menjadi tokoh-tokoh seperti yang di atas. Wayang dan dalang tidak dapat dipisahkan. Dalam mendalang pasti bawa wayang serta cerita. Dalang yang kreatif mampu membumi dengan penokohan dan karakter setiap wayang yang ditampilkan setiap babak. Ki Jliteng Suparman sangat baik dalam mendalang. Masuk ke dalam tokoh-tokoh yang diperankan.
6. Pesan moral yang dari pementasan WKS adalah menghargai nilai-nilai kehidupan, jujur, tenggang rasa, gotong royong, musyawarah. Dan menjauhkan prilaku KKN yang dapat merusak tatanan kehidupan bermasyrakat, berbangsa dan bernegara.
Nama : Mamat Slamat
Npm : 13410064
Kelas : 5B
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar